Jumat, 28 Juni 2013

The Story of Dayak Ethic (BATAS)



Di saat film Indonesia yang banyak berisi film-film yang kurang bermutu, BATAS menjadi oase perfilman Indonesia. Pasar nasionalisme yang terkandung dalam film ini jarang sekali kita dapatkan di film-film lain. Ide membuat film ini pada awalnya Marcella zaliyanti yang pemain sekaligus produser film ini sedang mengunjungi suatu kawasan sebagai duta untuk para wanita yang berada di perbatasan. Melihat banyaknya permasalahan yang terjadi di perbatasan akhirnya dia memutuskan untuk datang langsung ke daerah pedalaman kalimantan.

Film ini menceritakan tentang kehidupan suku dayak di Pontianak, Kalimantan Barat. Dibintangi oleh beberapa aktris dan aktor terkenal, seperti Marcella zaliyanti, pit pagau, Jajang C. Noer, Ardina rasti dan Arifin Putra. Film yang berdurasi kurang lebih 2 jam ini mempunyai alur maju dan mundur yang membuat film ini menarik untuk ditonton.  

Marcella Zalianty berperan sebagai Jaleswari yaitu sosok wanita yang ambisius dan memiliki kepercayaan yang tinggi. Alasan kenapa dia pergi ke pedalaman suku dayak adalah untuk mencari tahu kenapa program CSR yang diadakan oleh perusahaannya tidak berjalan sebagai mana mestinya. Masalah-masalahnya sangat bermacam-macam, diantaranya yaitu guru yang mengajar di pedalaman tersebut tidak betah untuk mengajar dan banyak diantara mereka yang dikirim untuk membenahi sektor pendidikan tidak lama kemudian pulang kembali dengan alas an yang bermacam-macam. Daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan memiliki pola kehidupannya sendiri. Mereka memiliki titik-pandang yang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan. Konflik bathin terjadi ketika dia terperangkap pada masalah kemanusiaan yang jauh lebih menarik dan menyentuh perasaan dibanding data perusahaan yang sangat teoritis dan terasa kering karena pada hakekatnya masalah rasa sangat relatif dan memiliki kebenaran yang berbeda. Karisma hutan dan pola hidup masyarakat telah menyadarkan dirinya bahwa upaya memperbaiki kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan adat istiadat setempat.
Sosok Adeus diperankan oleh Marcell Domits, seorang guru yang dipercaya menjalankan program pendidikan, kini menjadi pribadi pendiam dan apatis, karena sistem pendidikan yang diinginkan perusahaan di Jakarta, tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Adeus sendiri ingin sekali memajukan pendidikan di desanya, akan tetapi hal tersebut dihalangi oleh seseorang bernama otik. Adeus bisa dibilang satu-satunya warga desa tersebut yang memiliki pendidikan formal yang baik. Dengan usaha kerasnya, pada akhir film ini adeus menjadi guru di desa tersebut untuk mengajari Borneo dkk untuk belajar.
Sosok Arifin yang diperankan oleh arifin putra merupakan seorang intelegen Negara yang ditugaskan untuk mengawasi permasalahan human trafficking yang banyak terjadi di masyarakat suku dayak tersebut. Otik adalah pelaku utama untuk penjualan manusia di suku dayak. Salah satu korbannya diperankan oleh Ardina Rasti diberi nama ubuh oleh warga daerah sekitar. Oleh masyarakat Dayak disana, Ubuh tak hanya beroleh perlindungan namun juga kehangatan dan keramahan yang perlahan membuatnya berangsur pulih dari trauma.Pada akhir film ini, Arifin terlibat cinta lokasi (CinLok) dengan Jaleswari.
Itulah sedikit sosok yang diceritakan pada film ini. Sosok-sosok yang berjuang untuk pendidikan di suku dayak Pontianak. Dengan usaha dan tekad yang tinggi akhirnya semua bisa dilaksanakan. Saat selesai melihat film ini, saya langsung berfikir untuk melakukan suatu yang suatu saat akan berguna untuk Indonesia seperti yang Jaleswari lakukan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar